Minggu, 01 Juni 2014

RESUMAN BUKU



kritik mediasi seni penulis Asril, S.Kar., M.hum dan DR. Ediwar,S.Sn.,M.Hum
pada pendahuluan buku ini membahas tentang seniman, karya seni dan penonton secara garis besar, dilanjutkan dengan pengertian kritik secara garis besar, penulis menekankan bahwa dalam kritik harus ada norma-norma tertentu yang berfungsi sebagai dasar penilaian atau pembahasan terhadap sesuatu hyang dihadapi. Kritik merupakan suatu wahana menyampaikan berita, informasi, pengetahuan atau gagasan dari seorang kepada orang lain.
Kritik sering dianalogikan dengan aktifitas yang biasa dilakukan seorang hakim yang bisa mencangkup kegiatan menimbang, menelaah, menafsirkan dan pada akhirnya memutuskan vonis kepada terdakwa. Secara umum kritiki berarti kecaman atau tanggapan. Wilayah kritik sangat luas mencangkup berbagai lini dan aspek kehidupan seperti kritik sastra, kritik musik, kritik seni rupa, kritik tari kritik teater, dan bagain seni lainnya. Kritik seni merupakan suatu kegiatan untuk menvonis satu hipotesis untuk menunjukkan kekurangan dan kelemahan pada seniman dan karyanya.
Aktivitas kritiik seni secara menyeluruh diwarnai oleh pola pikir kualitatif yang tujuan utamanya bukanlah pembuktian suatu prediksi atau hipotesis namun pemahaman untuk menemukan makana konteks. Pada dasarnya seni diciptakan dan disajikan dalam bergaman bentuk bagi terjadinya pengalaman estetik.
Batasan kritik memiliki perbedaan , hal ini petanda bahwa untuk melakukan kritik perlu bersandar pada ilmu pengetahuan tertentu sebagai studi pendekatannya, baik yang berupa asumsi – asumsi, konsep-konsep,teori-teori.
Maka kritik sebagai kemampuan membahas dan sebagai aktifitas evaluasi bisa sampai pada pernyataan nilai baik dan buruknya karya seni tersebut.  Pendukung utama dalam kehidupan seni terbagi atas  seniman, karya seni, dan penonton karena ketiga hal ini tidak dapat dipisahkan, saling berinteragsi yang dinamis dan kreatif.
Penikmat seni merupakan orang-orang yang datang menonton karya seni tanpa harus terbebani oleh pemikiran atau analisi terhadap makna karya seni yang mereka tonton. Penghayat seni yang baik selalu haus dengan ragam pengalaman estetik yang sanggup mengunggah gairah kehidupan manusiawi dengan ragam kekayaan pengalaman batin yang mendalam. Penghayat seni dalam menanggapi sebuah karya seni akan terlihat proses kreatif atau proses imajinasi maka penghayat dapat dikatakan sebagai seniman .
Kritik seni terbagi dalam beberapa tipe diantaranya ktitik jurnallistiik, merupakan hasil  tanggapan atau penilaian yang disampaikan secaara terbuka kepada publik melalui media masa khususnya surat kabar. Kritik jurnalistik hampir sama dengan kritik populer bedanya pada kritik jurnalistik pembahasannya lebih tajam dan mendalam.
Selanjutnya kritik ilmiah, mengulas segala hal yang bersifat ilmu, dibuat secara pengetahuan dan memenuhi syarat ilmu pengetahuan.  Kritik ini suatu keterampilan mengkritik atau mengungkapkan hasil pemikiran atau pengamatan yang disusun secara sistematika sesuai dengan aturan tertentu yang lazim digunakan dalam dunia ilmu pengetahuan . kritik ilmiah memenuhi kaidah kaidah keilmuan berupa metode tertentu dengan menggunakan bahasa dan tata tulis yang baik dan benar atau pengunngkapan lisan.
Berikutnya kritik populer, jenis kritik yanng ditujukan pada masyarakat umum, dalam tulisan kritik populer jenis kritik atau putusan yang dibuat sejujur-jujurnya. Sebagian besar masyarakat yang membuat putusan kritik jenis ini cendrung berdasarkan pada intuitif.
Unsur-unsur  yang harus ada dalam kritik seni adalah deskriptif, interpretasi dan menilai karya seni merupakan pekerjaan penting dalam menelaah karya seni tersebut. Setelah mendeskripsikan sebuah tulisan lalu menginterpretasikan atau menafsirkan sebuah karya seni tersebut.  Deskripsi sangat penting dalam sebuah karya tulis ilmiah termasuk dalam tulisan kritik seni. Pengambaran situasi yang dialami oleh penulis membantu pembaca mengikuti perjalanan, pengamatan, dan kesan yang dilakukan oleh  penulis.
Penulisasn deskripsi berbeda terhadap objek yang sama, menurut ismail marahim deskripsi terbagi dua macam diantaranya deskripsi ekpositori merupakan pengambaran suatu objek menurut sistem dan urutan logis objek yang diamati. Deskriptif jenis ini sangat berguna bagi penulis yang ingin merensensi sebuah pertunjukan. deskripsi bisa dimulai dari awal pertunukan hingga selesai.
Berikutnya deskripsi impresionistis, penggambaran sesuatu, situasi, peristiwa, lokasi dan lain sebagainya berdasarkan impresi stau kesan penulisnya terhadap observasi yang dilakukan terhadapo karya seni yang diamati. Menilai baik dan buruknya sebuah karya seni selalu bernilai relatif tergantung pada tangga[an pembaca. Mengamati sebuah karya seni bertujuan untuk menelaah dan menilai karya seni.
Menilai sebuah karya seni dapat melalui ciri-ciri kasat mata pada karya yang bersangkutan, bagaimana representasi subjeknya fungsi simbolisnya dan lain sebagainya. Beberapa paradigma dalam menilai sebuh karya seni seperti yang dikemukakan oleh Barret.
Realisme, pandangan ini merupakan patokan kebenaran dan keindahan yang sudah ada dengan sendirinya. Pandangan ini tidak ada karya seni yang lebih baik selain karya yang secara akurat menggambarkan alam semesta dengan keberagamannya yang tak terbatas. Pandangan berdasarkan ekpresionisme, lebih bersifat subjektif keindahan terletak tidak pada objek yang ditulis melainkan tergantung pada pemahaman sendiri.
Berikutnya formalisse, suatu cara pendekatan yang pertama – tama memendang seni dari sisi seni itu sendiri, selanjutnya intrumentalism, seni menghamba pada nilai dan isu-isu yang lebih besar dari pada estetika dan seni. Selain keempat paradigma ini Beret menambah aspek yaitu nilai kekriyaan atau kesempurnaan teknisnya.
Pada bab berikutnya membahas tentang seni pertunjukan dan seni rupa sebagi sumbr penulisan di media masa . seni pertunjukan dan seni rupa dalam beberapa wilayah tertentu terutama yang tradisi dan karya kreatifitas setiap semester dan setiap tahun tahun selalu muncul tulisan-tulisan  dari masing-masing prodi oleh mahasiswa dan dosen dalam berbagai bentuk.
Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam sebuah karya, penonjoolan dalam karya dimaksudkan sebagai upaya mengarahkan perhatian orang yang menikmati suatu karya seni terhadap suatu hal tertentu yang dipandang penting dari dari hal-hal yang lainnya. Menulis sebuah karya seni melakukan beberapa tahap tertenntu dan menghasilkan jenis tulisan tertenttu pula.
Seperti resensi atau reviw,  merupakan pekerjaan yang bersifat memamparkan kembali sesuatubisa jadi masalah, kegiatan seni, ataupoun karya seni seperti buku.
Pada bab 4 buku ini membahas tentang titian ekpresi musik. Penulis membahas beberapa komposisi musik yang pernah dipertunjukkan dibeberapa wilayah yang berbeda. Penulis mengkaji tiap –tiap kompossisi dan mengupas lebih dalam.
Diawali pada kompossisi pertama born mencoba mentrasformasikan melodi pangharoroan dari gondang tradisional batak toba dalam suatu pencitraan orkestra. Berbagai bentuk kreativitas penciptaan dibidang musik dengan bermacam event sudah dilakukan di indonesia. Mulai dari penciptaan komposisi musik yang bersumber dari musik tradisi, interkultura, kolaborasi, eksperimental, konttemporer dan lainnya.
Temu musik tekkno  dapat dijadikan sebagai event alternatif bagi komposesr yang mengarahkan perhatian kreativitas penciptaan musiknya yang menggunakan media teknologi elektronik seperti komputer, midi dan sebagainya.  Dalam hal ini penulis membahas ritual magis sumber penciptaan komposisi musik sirompak dan spirit lukah gilo.
Diawali dari komposisi sirompak. Komposisi sirompak berdurasi sekitar satu jam , bagiian awal pada karya ini merupakan refleks musikal saluang sirompak yang pili, menyayat, dan menyentak dengan suara tinggi. Bagian kedua karya ini, melodi sirompak digarap dengan pendekatan atau format barat blus dan swing. Bagian ketiga dalam karya ini menyampaikan bahwa sirompak adalah perbuatan bersekutu dengan setan.
Sebagai penutup karya ini disajikan pertarungan  batin antara kraetivitas sirompak dengan ajaran islam. Selanjutnya kommposisi spirit lukah gilo, dilihat dari segi permaianan lukah gilo merupakan sejenis permainan yang berbau mistis nonn musikal dengan menggunakn lukah. Untuk melaksankan permaianan ini ada beberapa persyaratan khususnya terhadap bahan baku pembuatan lukah yaitu lidi, bambu.
Komposisi musik spirit lukah gilo dibagi dalam empat bagian yang diwujudkan dalam empat karya komposisi. Pada bagain pertama komposisi ini mengambarkan presesi pencairan batuang gilo, lidih giloh dan tampuruang gilo oleh sekelompok pemuda. Bagian kedua mengahadirkan suasana ritual mistik dengan mengetengahkan seorang pawang perempuan membaca mantra sambil memegang lidih gilo.
Pada bagian ketiga pola ritme dengan sukatan ganjil dan genap dihadirkan secara unisonon dan penonjolan masing-masing alat dengan drum sel, dol, konga, grand kasa dan lainnya. Bagian keempat mencoba untuk menafsir prosesi mengantarkan kembali jin ke tempat aslanya. Selanjutnya penulis mengkaji kompposisi tokok balega, perselingkuhan ritme tradisi. Komposisi ini digarap oleh andra nova didominasi oleh berbagai intrumen dan ensambel perkusi tradisi minang.
Karya globalisasi dalam ekpresi mempertemukan ekpresi musikal lokal-globalisasi , karya globalisasi dalam ekpresi merupakan karya revisi terhadap musik iringan tari yang anggap Mahdi untuk mengiringi tari wajah-wajah dengan koreografi martion. Mahdi, choli dan hendrizal mencoba mempertemukan ekpresi yang sarat dengan ekpresi musikal lokal dengan ekpresi musikal klasik, rock, tekno yang lebih universal.
Deforentasi dan gender dalam ruang estetik komposisi musik, sebuah kemajuan penting yang perlu dicatat  salah satu mahasiswa karawitan dala memnuhi tugas akhir telah bernai untuk mengangkat isu deforentasi dan gender. Uswan hasan berasal dari jambi. Wilayah jambi pada awalnya banyak memiliki hutan perawan, tapi justru telah terjadi pengunndulan dimana-mana. karya ini diawali dengan tayangan penebangan-penebangan hutan menggunakan mesin gain sawmelalui  proyektor ke layar bagaian belakang pentas.
Penampilan karya ini cukupp memukau namun penulis mmemberikan beberapa masukan dalam tulisan ini. karya ini diakhiri dengan sajian romantis, ironis dan sekaligus satire kepada berbagai pihak yang menikmati  hasil deforestasi . kahrya lainnya yang cukup enarik dan pperlu dicatat yaitu lapak-lapak puan oleh mariza miradona. Karya inni mencoba untuk menganalogikan posisi gandang batino dengan posisi perempuan Minangkkabau pada masa lalu yang lebih cendrung bersifat berdiam diri.
Karya ini sengaja menghadirkan dua buah gandang sarunai yaitu gandang jantan dan gandang batino  dengan posisi yang ditinggikan sekitar dua meter di atas level  pada bagian atas panggung. Apa yang telah diwujudkan oleh dua orang seniman ini merupakan terobasan baru ISI Padangpanjang.
Komposisi selanjutnya yaitu mmenyama beraya: dewa mencar swandara lewat musik. Melalui karya ini dewa mencoba menapaktilisi perjalanan hidup dan operjalanan musikalnya,   karya yang berdurasi sekitar satu jam ini, terdiri atas ketiga karya.  Dewa memulai komposisi saling asah asih asuh dengan pemunculan suling Bali dari sayap  kanan hinngga ke tengah pentas.
Sajian yang cukup mampu mengalihkan perhatian penonton adalah permaian anak-anak dari bunyi-bunyian permainan kapal terbang dari  seng. Komposisi berikutnya yaitu merajut serpihan perasaan, piaman dalam ritme. Dalam komposisi ini pembacaan susan dimulai ddari perjalan hidup seorang individu dari kecil hingga pascca pernikahan. Pertunjukan diawali dengan sajian komposisi buai anak.
Komposisi buai anak ialah merefleksikan bagaimana orang tua dala proses mendidik anaknya melalui selalu menanamkan unsur agama, etika, dan estetika, secara verbal serpihan perasaan juga disampaikan lewat teks pantun yang dibawakan dengan beberapa lagu indang.
Secara keseluruhan dari komposisi yang ditampilkan susn lebih banyak terbantu dari pengalamannya menggarap komposisi bersama group talago murni. Komposisi berikutnya yaitu komposisi  kalawang usang; potret balada bujang marando. Alvino mencoba mengadaptasikan pola ritme dan teknik permainan tingkahan talempong pacik kke instrumen string yang difungsikan sebagai alas komposisi ini.
Komposisi ini mengungkapkan perpisahan yang memilukan , ketika seseorang ditinggal mati oleh istrinya. Memilukan ketika seseorang ditinggal mati oleh istrinya. Berbagai kemelut seperti menjadi takut, histeris, tegang dan kacau berpadu menjadi satu. Persoalan yang agak menganjal dalam sajian ketiga karya ini,  tampak ppada upaya menyeimbangan suara masing-masing intrumen agar bisa hadir dalam kapasitas yang diinginkan. Sementara beberapa intrumen justru memerlukan amplikasi suara, agar bisa seimbang dengan suara intrumen yang lain. Komposisi selanjutnya yaituu musik hibrida nusantara persilangan yang melahirkan tnas baru. Hibrida dalam musik merupakan sebutan yang tidak begitu familiar di kalangan pemusik. Sebutan hibrida dalam musik yaitu pencakokan dari beberapa unsur musik yang erbeda latar budaya dan karakter sehingga membentuk musik.
Kecendrungan umum yang dilakukan adalah pencakokan mmusik tradisi dengan musik barat yang beraliran populer, dangdut dan kitch. Bagi kalangan seniman batak khusunya yang berorientasi pada musik populer atau musik industri yng komersia, gondang sabangunan justru dicangkok dengan intrumen mmusik barat bahkan dengan konsep musik barat. Pembaruan ini melahirkan warna baru bagi ensambel gondang sabangunan.
 Beberapa musik minangpun mengalami kasus yang sama.  Musik – musik yang lahir dari proses pencangkokan ini, bisa tumbuh menjadi tunas muda yang subur, layu, atau mati sebelum berkembang. Komposisi berikutnya telempong kreasi musik hibrida diatonik minang. Salah satu peristiwa yang patut dicatat dalam perkembangan musik tradsi minang adalah, penalaan nada-nada  pada talempong yang umumnya dari  scale pantonik ke internal diatonik penelaan ini dikelompokkan pada beberapa bagian.
Talempong kreasi pada awalnya digunakan sebagi musik intrumentalia lagu-lagu yang berasal dari denang tradisi minang, seperti talago biru, tak tonntong dan lain sebaginya. Talempong kreasi sejak dari  tahun 1970an-1980-an, bahkan sampai sekarang menjadi salah satu gendre musik Minang yang banyak digunakan di sanggar-sanggar tari, di berbagai kota yang ada di Suabar.
Di kota ini talempong kreasi dikembangkan pada sanggar tari Minang tigo sapilin pimpinan Abu Bakar siddik sedangkan yang menjadi penggerak musinya dimotori oleh hajizahketika masih kuliah di jurusan etnomusikalisasi USU.frekuensi pertunjuakn tari minang dengan iringan talempong kreasi, terbilang sangat padat di Jakarta, terutama pada hari Jumat sabtu dan minggu.
Keunggulan penggarapan talempong kreasi yusaf rahman dan penampilannya yang memikat. Islamidar memiliki keunikan tersendiri dalam bermain talempong. Ia tidak menyusun nada  - nada talempong secara berurutan seperti nada rendah ke nada tinggi dari kiri ke kanan, tetapi berselang –seling tinggi rendah nada itu dari kiri ke kanan sehingga membuat ia lebih luwea memainkan melodi talempong. Meskipun saat ini Islamidar tidak lagi  aktif bermusik di sanggar Syofyani karena telah tua.
Talempong goyang ; musik hiburan masa depan minang, metamorfosis dari talempong kreasi ke talempong goyang. Talempong goyang merupakan bentuk elaborasi atau perluasan dari konsep musik talempok kreasi. Talempong kreasi membuka pelyang tidak hanya untuk mengiringi tari dan memainkan musik-musik intrumentalis lagu-lagu dan dendang-dengang m,inang saja akan tetapi kalangan seniman telah pula dimanfaatkan untuk mengiringi berbagai lagu-lagu pop.
Geliat talempong kreasi khususnya merambah pada lagu-lagu dangdut, ternyata memberi imabas tersendiri pada genre musik ini, antara lain dari karakter musik dangdutan dengan pola ritme tablanya yang mampu mengugah jasmani penikmatnya bergoyang apalagi ditambah dengan goyangan para artisnya.
Pemberian nama talempok goyang diodasari atas irama musiknya yang membuat para penonton bergoyang nama talempong goyang lebih berkembang di daerah Padangpanjang, bukittinggi, Paykumbuh dan sekitarnya.
Berbeda dengan Jakarta kalangan seniman dan penikmat musik talempong kreasi justru nama talempong goyang tidak muncuk ke permukaan bahkan nyaris mau mengenal dan tidak mau memberi nama itu.
Ketika talempong kreasi berganti nama menjadi talempong goyang  fungsi semula sebagai musik pengiring dari tari mulai berkurang bahkan talempong goyang justru mampu berdiri sendiri tanpa ada tarian. Lagu-lagu  yang dimainkan dalam talempong goyang akan selalu mengalami perkembangan dengan menambah lagu-lagu baru yang muncul dari khasanah musik pop minang dan mmusik indonesia.
Sekrang ini permaian talempong goyang telah merambah ke babagai tempat dipelosok Sumatra Barat. Pertunjukan tidak haya pada acara pesta perkawinan saja, tetapi juga digunakan untuk acara pesta keramiana pemuda, pisah sambut para penjabat daerah dan lain sebagainya.
Pada awal sekitar tahun 1995 talempong goyang lebih banyak dipertunjukan di kota Paykumbuh. Pada wkatu itu memang belumm banyak masyrakat melirik musik. Di ISI Padangpanjang sendiir atalempong kreasi telah diajarkan agar para mahasiswa lebih luas ruang gerak kreasinya dsengan talempong goyang.
Talempong goyang; musik hiburan masa depan minang , tampilan artis mengundang simpati. Pada poin ini penulis membongkar tentang musisi talempong goyang mayoritas merupakan orang akademik , ternyata membawa simpati terseniri di masyarakat, meski cita ras amusik mereka masih tergolong ringan dan belum  mungkin disandingkan dengan group-group band dengan berbagai oeralatan bang yang labih maju.
Beberapa pengguna talempong goyang memberikan kommentar nahwa mereka lebih suka pada talempong goyang terutam dikawasan Padangpanjang, Bukittinggi dan sekitarnya mkarena nuansa musik minangnya yang kuat , selain ajuian musiknya yang jga turut memsona perhatian penonton adalah penampilan para artisnya yang sopan dan rancak.
Para seniman group talempong goyang tidak hanya dilakkukan oleh para pemusik dan penyanyi dari kalangan mahasiswqa , dosen, dan amtiran saja tetapi juga sudah banyak dilirik dan dikikuti oleh penynyi-penyanyi yang tergolong profesional.
Poin selanjutnya membahas talepiong goyang menggoyang orgen tunggal. Perkemabngan orgen tunggal dalam satu dekade ini  dibeberap tempat ternyata berdampak kurang baiik. Secara perlahan –lahan menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat  apalagi pertunjukan yang diadkan pada malam hari menghadirkan pertunjjukan striping dan sebaginya. Penyajian orgen tungal dengan musik triping tidak hanya disajikan pada keramaian pemuda atau kampung  tetapi jjuaga disajikan di acara pesta perkawinan yang dalam konsep masyrakat Minangkabau agak sulit diterima.
Penolakan seperti inni bagi orgen tunnggal memberikan ruang grak tersendiri bagi  talempong goyang.  Kehadiran talempong goyang  denga tampilan yanng simpati dengan busana yang rncak dan jauh tidak melayani triping, sekalipun permintaan itu datang dari pemuda atau tuan rumah yang mengundang.
Uniknya talempong goyang selalu selalu melakukan pembaruan terhadap alat musik yang digunakan , group talempoong goyang alfa musik misalnya menyerahkan seperangkat kendang sunda dalam kelompoknya dengan pengendang asep saeful haris. Mereka lebih memilih salad bowl masing – masing elemen budaya tidak lebr elinkan eksis dalam kebersamaan dan kecocokan. Barangkali juga mereka sedang mencari suatu hibrida musik yang gampang dicangkokkan dalkam musik mereka.
Poin berikutnya membahas musik dari jazz, jazzy hingga dunia magis sejak dua bulan terakhir ini musik ISI Padangpanjang lebih cendrung bermain musik jazz, jazzy hingga musik yang berbau mistis. Komposisi musik mereka diramu dari beberapa unsur tradisi, pop, dan jazz. Sementara yang berbau magispun tak luput pula dari pengaruh yang becita rasa pop.
Di Indonesia sering muncul pemikiran tentang musik jazz. Bahkan ada yang muncul istilah jazz-ethnicic yakni mengawinkan beberapa genre musik tradisi dengan intrumen musik yang umum  dipakai dalam musik jazz, kemudian dimainkan dalam gaya jazz. Salah satu yang perlu dicatat misalnya, yang dilakukan oleh group karakatau yang mengawinkan musik jazz dengan musik  sunda.
Salah satu komposisi matinya biso sirompak merupakan sajian komposisi play setan yang digarap oleh Rizki menghadirkan kontra magis dari aktivitas magis sirompak. Rizki mencoba memutar balikkan keganasan sirompak menjadi segar dalam kemasan kocak. Menurut penulis Rizky cukup cerdik menggali pertunjukan untuk membangun citra magis dan mistik, ia menghadirkan dua warna konnttras hitam dan putih.
 Interpretasi yang cukup segar ditampilkan Rizki sebagai sajian penutup, yakni ketika tulang soga yang berperan sebagai orang yang mengekpresikan gadis yang dituju dengan gerakan-gerakan menggapai dinding dan lain sebagainya ketika mengelurkan mantra.
Pada bab lima buku ini membahas tentang titian ekpspresi seni dibuka pada pooin pertama dengan persoalan west sumatra dance festival: ajang baru telorkan koreografer.  Pada bagaian awal penuliis mendeskripsikan alur dari pertunjukan tari tersebut.
Pertunjukan yang dilakukan selama tiga hari dari tanggal 16-18 Desemeber 2005 dengan lima sesi waktu pertunukan. Khusus pada pertunjukan telah disajikan sebanyak 29 koreografer oleh 33 koreografer yang terdiri dari 29 koreografer lepas.
Khusus untuk pertunjukan yang menyuguhkan 25 koreografi  oleh 25 koreografer, secara umum lebh didominasi oleh para koreografer muda yang penuh potensi. Festival ini telah memunculkan semangat baru dan babak baru dunia tari sumatra Barat. Lahirnya koreografer-koreografer muda yang potensial. Tak satu pun dari karya mereka yang termasuk kategori koreografer yang disajikan lebih banyak berorientasi pada modren.
Dari rangkaian kegiatan festival ini yang menarik diamati adalah kolaborasi delapan koreografer yang menghasilkan empat koregrafi.  Koreografi ini membangun dialog budaya antara minang dengan pasifik. Secara keseluruhan kolaborasi ini sungguh telah membuhkan suatu kreativitas yang nyata dengan munculkannya korregrafi baru.
Meski berbagai persoalan yang terkain dengan kolaborasi masih perlu dipahami seccara lebiih dalam, agar persentuhan budaya tidak hanya terjadi pada tataran kulit luar saja. Tetapi sampai pada jiwa dan rohnya. Tentu saja kesetaraan kemampuan teknik dan interpretasi para kolaborasi terhadap materi timbal balik sangat diperlukan. Yang tidak kalah penting juga adalah ketersediaan waktu yang memadai untuk berprosese.
Komposisi berikutnya yakni koreografi baban babani tababan menyulam tradisi agraris dan bandar minangkabau. Untuk menyiapkan koreografi ini lora mencoba menyulamtradisi – tradisi agraris dan bandar Minangkabau dalam satu koreografi baru.
Masyarakat Minagkabau yang pada awalnya memiliki dua ranah tradisi yaitu agraris dan perkotaan.untuk menghadirkan suasana tradisi bandar lora mengangkat tari-tari tradisi yang tumbuh di wilayah perkotaan Minagkabau pada masa lalu. Misalnya tari-tari melayu yang pada awalnya tumbuh di sekolah – sekolah formal.
Salah satu tari yang cukup unik yang dimilik oleh orang Suamtra Barat adalah tari balence madam. Tarian ini merupakan peningala portugis sebagai tarian pergaulan di kalangan anak muda. Uniknya tarian ini justru hanya diwarisi oleh masyarakat etnis nias yang tinggal dipinggiran sungai Batang dan gunung padang.
Dalam pengemasan karya ini, lora juga mencoba mengaitkan dengan keberadaan pemimpin imajiner Minangkabau yaitu bundo kanduang yang diperankan oleh kurnaisih zaitun yang berdiri di atas bendiyang dilepas atasnya sebagai imitasi dari kereta kencana kaum feodal Minagkabau. Bundo kanduang ini hardir dibagian awal dan akhir saja.
Poin selanjtnya mebahas tentang romantis suarau ala tarian darwishan, karya ini merupakan riset yang mendalam terhadap suatu fenomenal kkulltural atau sosial, alek menyiapkan koreografer  dengan memunculkan kejutan-kejutan dari keunikan dan kekuatan dari suatu tradisi, fenomenal sosial, lingkungan atau tokoh yang misalnya bundo.
Pengembangan imajinasi dari riset yang dilakukan aleks tidak melulu ppada wilayah sakral dan ritual. Hasil amatannya pada wilayah sakral dan ritual yang cukup penting melahirkan karya adalah tari kerudung alek mengeksplorasi haibis aktivitas amalan oarang-orang berzikir.
Karya yang sudah ditampilkan dalam beberapa iven ini termasuk pada festival serambi didukung oleh enam penari perempuan dengan busana talakuang dan kain sarungkemudian diperkuat oleh seorang penari laki-laki dengan busana islami juga memakai kain sarung.
Bagian yang cukup penting dari karya ini adalah pemunculan gerak spirit of cyrcle yang sangat lazim digunakan oleh para penari darwish dikalangan penganut sifi di timur berputar oleh masing-masingnya dalam waktu yang lama dan berulang-ulang tapi dalam keseimbangan yang kokoh mereka bisa mencapai trance.
Penulis memberikan sedikit masukan diakhir poembahasan komosisi ini yaitu  lebih banyak memunculkan gerak-gerak berputar ala darwishan sehingga terjadi perpaduan dan sekaligus benturan antara kekhusuan dan keriaan antar duniawi dan ukhrawi.
Komposisi berikutnya yaitu Deslenda, pipmpinan galang dance Company Padang hingga saat ini masih tercatat sabagai salah satu seorang koreografer wanita Minang. Karya galuik yang ditarikan oleh tuti dan Rahma mencoba menggambarkan pergaulan dua orang yang saling berupaya memperebutkan suatu posisi. Deslenda memanfaatkan penjajahan gerak dengan tidak berpatokan pada idiom lokal minang  walaupun begitu pada bagian-bagian tertentu masih terselip unsur Minangnya.
Karya kedua halte terinspirasi dari halte sebagai sebuah perhatian atau penantian sementara untuk melanjutkan perjalanan dan tujuan masing-masing individu. Untuk memperkuat suasana Halte  deslenda menghadirkan dua bangku panjang  yang berbeda tingginya.
Karya ketiga penantian ditarikan sacara solo oeh Deslenda sebagai seorang koreografer dan juga penari yang sudah senior, dari ketiga karya tersebut menurut penulis secara teknik dapat dicatat bahwa salah satu kekuatan Deslenda adalah memadukan unsur teaterikal ke dalam karyanya.
Dari ketiga koreografer ada beberapa catatan yang menarik untuk diperbincangkan . tiga koreografer ini mengangkat kronuk kehidupan sebagai faktor wkstrinstik seni, meskipun dianggap hal yang sudah bisa.
Sisi gelap pelacur. Ririn misalnya melihat sisi kehidupan pelacur tidak hanya sebatas kenikmatan semu belaka yang diregup oleh pelacur tetapi apa akibat dibalik itu dalam pandangan sosial dan moral. Bagian akhir karya ini Ririn menghadirkan kontra kenikmatan sebagai akibat dari perbuatan pelacur. Pelacur dihukum secara sosial oleh masyarakat secara sadisme bahkan cendrung vandalisme.
Selanjutnya karya kedua pintu hati. Rina mencoba mempresentasikan satu sisi gelap kehidupan rumah tangga seorang ayah menjadi si-sia dihari tuanya. Rina mencoba mengakali pertunjukannya dengan menghadirkan silhoute dari dalam kotak sebagai refleks flashback kehidupan.
Pada karya ketiga untung buntung yang digarap oleh denni yang dipentsaskan di atuditorium Boestanoul Arifin Adam mencoba menterjemahkan peristiwa kisruh yang terjadi di pasuruan 15 September 2008. Karya ini didukung oleh 17 penari bagian pertama karya ini diawali dengan adegan kegiatan pemberian zakat kepada masyarakat secara realis dengan busana keseharian dan blazer.
Pada akhir karya ini semua penari jatuh bergelimpangan sebagai gambaran jatuhnya korban. Sepanjang pertunjukan berlangsung Denni seperti  menguras suasana tegang, keras dan chaos dengan menempatkan semua penari dalam satu posisi tanpa beda kelamin.
Persoalan yang mendasar dalam karya ini adalah minimnya pemahaman terhadap dramturgi. Hal yang sama sebenarnya juga terjadi pada dua koreografi yang lain. Selanjutnya karya Nike suryadi dengan judul aku dan sekujur manekin mencoba membaca persoalan yang banyak dialami oleh para perempuan dalam kasus dan suasan batin yang berbeda.  Penulis memamparka ketertarikannya pada bagai terakhir ulasan ini, Nike memiliki ide cemerlang mencoba mengangkat fenomena budaya urban yang tergiur oleh indahnya tubuh seperti manekin ke panggung pertunjukan tari.
Setelah mengulas persoalan komposisi sebuah karya tari, penulis masuk dalam pembahasan berikutnya yaitu mediasi seni teater. dibuka dengan sebuah karya berjudul tangga dengan sutradara Yusril.  hal yang menarik bagi poenulis dalam karya ini adalah eksplorasi yang dilakukan oleh seluruh pemain dengan mengususng tangga menjelajahi setiap lini pentas.
Pada bagai penutup karya ini, eksplorasi tangga seperti membentuk replika rumah gadang dengan latar belakang visual art yang digarap oleh Ddede pramayoza para pemain duduk dan berdiri di atas dan dibawah rumah gadang.
Karya yang berdurasi sekitar  55 menit ini memiliki etika konvensional seperti ungkapan bajanjang naiak batangga turun.  Akan tetapi benturan muncul ketika situasi kekinian tidak lagi terkapung dalam koridor adat.
Karya berikutnya yaitu hikayat cantoi karya Sulaiman Juned, dengan menggunakan setting yang sederhana sebuah jambo di tengah bagian belakang pentas yang berfungsi sebagai layar siluet. Penulis mendeskripsikan  pertunkan serta aspek dan sntuhan teater tutur di dalamnya.
Selanjutnya pada pertunjunkan teater garis yang hilang, menurut penulis jika diamati dari asopek teknik  dan penggarapan, agaknya karya ini belum terlalu banyak menyungguhkan pembaruan-pembaruan. Bahkan boleh dikatakan belum tampa. Penetaan cahaya yang sangat terbatas sehingga beebrapa konfigurasi gtidak terdukung secara optimal oleh lighting.
Secara visual tampak bahwa oara pemain bermain sangat lepas, polos tanpa batas. Mereka menghayati isi naskah karena yang mereka mainkan tentang diri mereka sendiri. Selanjutnya pertunjukan teater ibunda karya Tia setiawaty, pertunjukan teater ini mengangkat drama rummah tangga dengan setting budaya keluarga Jawa. Penulis mendeskribsikan cerita pada bagian tulisan ini, masukan yang dipamparka penulis dari beberapa penonton yang yang menyaksikan, pertunjukan mengalir sangat cair, sehinngga tidak terasa waktu yang cukup panjang itu berlalu.
Bagi Tya, mentransformasikan film ibunda ke dalam bentuk pertunjukan tidak dimaksudkan hanya untuk memindahkan capaian artistik dan sinematografis ke atas panggung.  Namun berupaya memilih sejumlah adegan yang memungkinkan disusun untuk membangun alur dramatik dan menyajikannya pada media yang berbeda.
Pertunjukan berikutnya, tsunami-tsunami: serpihan pilu yang tercecer. Naskah tsunami-tsumnami merupakan nukilan pengalaman Julie janson, seorang guru dan penulis yang berasal dari sydney, australia yang menuliskan pengalamannya ketika jadi relawan saat tsunami menerjang.
Kabar dari nagari laki-laki ketika kampung sudah menjadi rantau. Penulis memamparkan devisinis dari merantau, merantau merupakan hal yang lumrah bagi semua laki-laki Minang. Merantau sebagi motivasi dalam mencari ilmu, pengalaman, dan bekal untuk dibawa ke kampunng halaman kelak. Catatan penting dalam pertunjukan ini, inovasi yang ditawarkan adalah pada pembacaan situasi sosial masyarakat Minang saat ini dalam kaitannya antara rantau dan kampung yang sudah berubah.
Usai pembahsan tentang mediasi teater, penulis masuk pada pembahasan berikutnya mediasi film yang terbagi dari beberapa poin diantaranya trasformasi puisi ke film, penulis memamparkan salah satu pemutaran film yang pernah diputar di ISI Padangpanjang. Selanjutnya poin tradisi perkaiwinan; penculikan perempuan di Kyrgiystan dan uang naik di Makasar ( Resensi film Dokumenter ).
Contoh mediasi film lainnya yang dihadirkan oleh penulis yaitu uang naik karya atau sutradara Ulfiani, Bride Kidnapping in kyrgystan karya atau sutradara petrlom, selanjutnya penulis menjajali mediasi seni rupa dengan beberapa contoh karya sebagai bahan tulisan bagi penulis.

RESUMAN BUKU


DRAMATURGI SANDIWARARA
(POTRET TEATER POPULER DALAM MASYARAKAT POSKOLONIAL)
PENULIS DEDE PRAMAYOZA
OLEH : WINO SARI
Sandiwara kampung dapat dikatakan sebuah seni dramatik (teater) yang berkembang luas pada masyarakat minangkabau di Sumatra Barat pada dekade 1960-an sampai pada pertengahan 1990-an. Perkembangan sandiwara diwarnai dengan pergelaran kesenian ini secara sporadis diberbagai tempat. Keberadaan sandiwara pada saat itu memiliki kedudukan yang jelas dalam masyarakat Minangkabau di Sumatra Barat.
Sandiwara sebagai salah satu teater rakyat menjadi hal yang menarik di masyarakat minangkabau. Sandiwara mengingatkan tentang campur tangan kolonialisme dalam sejarah seni dramatik di indonesia. Pada dasarnya sandiwara dalam bahasa jawa digunakan sebagai pengganti kata tonil dario kata toneel yang berarti drama dan dalam bahasa belanda yang berarti sebagai pengajaran terselubung atau tersembunyi.
Catatan sejarah mencatat bahwa opera melayu sama pentingnya dengan tonil kolonial Belanda dalam membangun teater modren indonesia. Bentuk tipe dari kedua bentuk seni dramatik ternyata sama – sama mendapatkan pengaruh teater barat mutakhir melalui lembaga-lembaga teater yang sudah ada pada sebelumnya. Teater rakyat atau drama poskolonials sering tiudak dikategorikan gendre pementasan dramatik yang muncul sebagai reson atas kondisi – kondisi sosial kulture setelah berdirinya negara poskolonial yang mengidentikan sebuah kesadaran rakyat.
Teater rakyat atau drama poskolonialisme sering disebut sebagai hibrida dari opera melayu dan tonil dengan tambahan pengaruh baru dari hal tersebut terbukti bahwa sandiwara terpinggirkan dari diskursus teater Sumatra Barat yang diindikasi adanya proses kanonisasi terhadap teater dengan alasan yang perlu dikaji.
Dalam mengkaji buku dramaturgi sandiwara ini, penulius menggunakan beberapa pendekatan sebagai landasan atau jembatan untuk menemukan persoalan yang akan dibahas, salah satu pendekatannya yaitu sosiologi teater karena dalam hal ini membahas tentang tinjauan terhadap masyarakat  atau kerangka sosial yang melingkupi sandiwara terlebih dahulu, maka penulis menggunakan konsep – konsep sosiologi.
Pendekatan lainnya yang digunakan penuliis yaitu pendekatan dramaturgi yang mana sang penulis mempercayai bahwa ada dramaturgi khas yang bekerja dibalik pementasan sandiwara yang memenuhi disposisi estetika penontonnya. Bentuk konsep – konsep dramaturgi digunakan penulis dalam hal ini.beberapa teori natau konsep lain yang  dikemukakn oleh para ahliterkait dengan dramturgi juga dipaparkan dalam persoalan ini seperti dramaturgi berkaitan erat dengan penafsiran teks lakon yang pada akhirnya dramaturgi mempengaruhi peciptaan estetika pementasan sebagaimana dramaturgi menciptakan kerangka teoritis untuk penulisan teoritis.
Setelah menggunakan dua pendekatan tersebut, penulis melanjutkank dengan pendekatan yang ke tiga yaitu drama poskolonial. Pada pemebahasan kali ini, penulis menyatakan bahwa perkembangan dramaturgi trkait erat dengan sejarah dan bentuk respon dari kondisi sezaman ini artinya bahwa perkembangan zaman mempengaruhi perekembangan dramaturgi. Maka teater terlibat dengan semangat – semangat aru yang menghasilkan perkembangan dramaturgi baru  pasca perang dunia kedua dan perang dingin . penulis juga meninjau dramaturgi dalam perspektif kesejarahan untuk melihat anasir – anasir yang telah mengontruksi dramaturginya serta disposisi estetika penontonya. Penulis mengemukakan teori oleh para ahli terkait dengan dramaturgi dan kebudayaan yang memepengaruhi perkembangan teater di indonesia.
Teori yang telah dikemukakan ternyata membantu dalam menemukan persoalan gejala sandiwara itu sendiri. Seperti kemunculam kata sandiwara itu sendiri yang mendapatkan pengaruh dari belanda. Pada dsarnya kata sandiwara sebagai pengganti kata toneel kata yang berasal dari Belanda. Setelah ditelusuru ternyata teori yang dikemukakan kurang memadai karena mengesankan bahwa setiap lapis kebudayaan yang datang dengan tradisi – tradisi inheren didalamnya, diterima begitu saja oleh masyarakat Indonesia tanpa memberikan respon sebaliknnya jika ditelusuri kembali nkata sandiwara sebagai pengganti kata toneel menunjukkan indikasi adanya perlawanan budaya dari pribumi terhadap budaya asinng.
Teori – teori yang telah dikemukakan dapat membantu melihat respon masyarakat Indonesia atas kedatangan berbagai tradisi teater dan dramaturgnya. Jika diperhatikan istilah sandiwara yang mengidikasikan adanya pengaruh Kolonialisme Belanda terhadap perkembangan drama dan teater di Indonesia serta adanya respon lokal atau pengaruh itu, mak penulis menggunakan konsep poskolonialisme sebuah kajian yang membongkar efek berkelanjut yang ditimbulkan oleh kolonialisme atas masyarakat bekas terjajah.
Sebuah buku yang membantu menyingkapi dramaturgi poskolonialsme yaitu potcolonial drama Hellen Gilber dan Joeanne Tompkins mengatakan bahwa teater yang hidup di sebuah negara bangsa yang pernah dijajah berpotensi untuk menjadi bentuk kompbinasi sinkretis antara bentuk – bentuk pergelaran lokal dan bentuk – bentuk yag dipengaruhi oleh respon bentuk bentuk teater hibrida. Bentuk – bentu drama poskolonial terbentuk melalui konsep antara lain mimikri dan mokori yang menunjukkan keterbelahan dari subjek poskolonial antara mengagumi dan membenci penjajah.
Maka pendekatan drama poskolonial dapat digunakan untuk membungkar fakta poskolonialitas yang secara sederhana dapat dipahami sebagai kondisi poskolonial yaitu sebuah efek dari hegomoni budaya yag dipraktikkan kolonialsme beserta warisan – warisannya. Drama poskolonial dapat juga digunakan untuk melihat bagaimana masyarakat poskolonial menyingkaipi kolonialisme dan poskolonialisme melalui seni dramatik atau teater.
Pada pembahasan bab kedua yaitu riwayat dan jejak – jeka sandiwara.. dalam hal ini menyikapi kehadiran sandiwara di sumnatra Barat serta jejak – jejak yag masih dikenali. Untuk mencari informasi tentang sandiwara yang ada di Sumatra Barat penulis melakukan metode wawancara dan observasi lapangan serta. Teknik observasi diberbagai nagari yang terkonstuksi dari hasil wawancara selanjutnya dikonfirmasikan mdengan dokumentasi visual manpun tertulis, penulis mengkoperasikan untuk meilihat pola – pola umum yang berlaku pada produksi sandiwara. Hasil konstruksi itulah ditulis dan dinamakan dengan dramaturgi sandiwara. Guna menganalisi makana – makna yang ada dibaliknya dengan mmembuat sebuah teks ddengan nama sistem pengetahuan dan kontsks sosial yang telah dipahami.
Pemabahasan ini penulis mengurutkan riwayat sandiwara yang diawali dari opera melayu dan tonil.  Pada pembahasan ini penulis memulai dari nama toko yang pertama kali mencatat perkembangan seni dramatik di Sumatra Barat  yaitu van Kerckoff dalam sebuah risalah yang ditulis di payakumbuh pada tahun 1888 yang ia namai dengan toniil melayu Sumatra Barat yang ia duga datang dari riau. Kehadiran tonil mmelay tumbuh di Padang merupakan respon atas kehadiran wayang tjina di Singapure dan komedi porsi di Malaysia. Beberapa hal menjadi catatan bagi Van kerckoff hingga kesimpulannya lakon tonil melyu mungkin sekali digemari penonton di Padang karena faktor bahasa melayu yang digunakannya dekat dengan bahasa lokal, yaitu bahasa minangkabau.
Dari perkembangan tonill di Padang kemudia mulai menjajali daerah – daerah di sekitarnnya seperti Pariaman, Padangpanjang, Bukittinggi, Payakumbuh dan lainnya. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Van kerckoff saling berkaitan dengan penelitian yang dilakukan oleh tokoh lainnya seperti Rusli Amra yang menyatakan pada awal abad 20 telah ada gedung – gedung hiburan di Paadang yaitu Gedung komidi yang pernah diadakan pementasan-pementasan oleh rombongan komedi stambul. Hingga pementasan tersebut berhasil membuat rommbongan ini menjadi sangat populer di Padang sehingga memicu masyarakat untuk membuat rombongan stambul sendiri antara lain sawahan , kampung jawa, balakang tangsi dan lain sebagainya.
Pada rombongan ini banyak orang terkemuka ikut dterlibat di dalamnya dan terdapat pula indikasi bahwa adanya dukungan dari Belanda  yang ditunjukkan dengan kedatangan petingginya.
Kemunculan rombongan stambul di daerah Sumatra Barat, salah satuya rombungan pertunjukan di Padang bernama pangsche opera oleh Brahim didugaberdiri disekitar tahun 1925-1926 dengan beberapa lakon yang pernah mereka pentaskan seperti melati van agam dan mengangkat berbagai cerita populer dikawasan tersebut seperti kisah siti nurbaya dan  laras simawang.
Padangsche opera mejadi catatan penting bagi praktik seni dramtik di Sumatra Barat yang menandaskan bahwa pementasan lakon -  lakon adaptasi dari  novel – novel populer ssezaman yang ditulis oleh para penulis Minangkabau yang berdampak meningkatkan jumlah penulis asal minagkabau pada masa itu. Salah satu catatan penting bagi pementasan Padangshe opera dengan lakon siti nurbaya yang merupakan adaptasi dari novel siti nurbaya karangan merah Rosli yang merupakan novel paling populer pada masa itu. Padangche opera sendiri memilik tokoh yaang berperan penting di dalamnya antara lainn Andjas asmara dan Amirudin. Pengaruh atas perkembangan seni dramatik di Sumtra barat menunjukkan bahwa pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke 20 di Sumatra Barat telah dikenal opera melayu dan diyakin pada saat itu kesenian randai berdialoh seperti pada saat ini yang telah berkembang. Kemungkinan randai pada saat itu baru berbentuk tarian yang berangkat dari tarian laeat silek dengan iriingan cerita lewat dendang.
Perkembangan randai di Sumatra Barat menjadi bentuk terpengaruhan dari seentuhan rombongan bangsawan. Ada dua pembeda antara Padangsche opera dengan bangsawan  yaitu terletak pada dialog para pemeran diucapkan dan bukan dinyanyikan, bahasa yang digunakan bahasa minangkabau dan bukan bahasa melayu.
Maka btesar kemunngkin bahwa Padngsche opera dan dardaneela, miss Ribout orin turut mempengaruhi transisi dari teater musikal ggaya bangsawan kepada teater ucapanyang pada masa itu dikenla sebagai tonil. Perkembangan seni dramatik Sumatra Barat juga dipengaruhi oleh tonil sekolah yang dikembangkan oleh kolonial Belanda dengan bukti beberapa donkumentasi dan arsip lainnya.
Salah satunya yaitu kweekscool Bukittinggi yang pernah mementaskan lakon Cinduo mato yang berupaya memberikan inspirasi kepda bberapa kalangan pendidik bumiputra Sumatra Barat sehingga mereka mulai mengenali dan menggeluti tonil. Selain itu INS kayutanam sering mengadakan pertunukan sandiwara di pasar- pasar malam untuk mengumpulkan dana bagi pembangaaun sekolah.
Zaman peralihan dari tonil ke sandiwara dimulai dari strategi kebudayaan kolonial Jeapang yang berusaha melenyapkan berbagai anasir kebudayaan Eropa dari nusantara salah satu faktornya meluasnya istilah sandiwara di kemudian hari. Peralihan antara kebudayaan Eropa di nusantara ke bentuk penjajahan Jepang mulai muncul rombongan yang menjadi catatan sejaraj di Sumatra Barat yaitu kelompoj sandiwara ratu asia menurut beberapa tokkoh didirikan di Padangpanjang pada tahun 1943 dengan Sjamsudin Syafei sebagai inisiatornya. Berbagai poementasan yag pernah dilakukan dengan beberapa lakon yang pernah dibawakan antaranya buga bangsa, belenggu masyarakat dan lain sebagainya.
Kemunculan group sandiwara pada masa itu berkaitan dengan makin lesunya dunia hiburan salah satu faktor melesunya dunia sandiwaa disebabkan karena beberapa tahun sebelum pendudukan jepang orang – orang tonil atau sandiwara telah ikut meramaikan dunia film. Berdirinya rombongan ratu asia pada masa ini diketahu ada perbedaan pendapat, tengku syed abdulkadir dan zen mengatakan bahwa ratu asia adalah ggrou yang didirikan dalam rangka mengimbangi hegemoni kebudayaan kolonial jepang. Margaret kartomi mngatakan bahwa kelompokini merupakan bagian dari strategi kebudayaan Jepang. Pendapat inni juga dikuatka oleh para tokoh lainnya.
Setelah proklamasi ratu asia berkebang menjadi sandiawara keliling yang meperjuangkan rakayat mengahadapi agresi militer Belanda dampak dari lakuan Ratu asia memberikan inspirasi pada rombongan sandiwara lainnya yang ada di Sumatra Barat untuk membantu memproklamsikan kemerdekaan RI.
Setelah proklamasi dan sekitar tahun 1950-an di Sumatra Barat berkembang dua tipe sandiwara yaitu sandiwara keliling dan sandiwara pelajar yag menjadi pembeda .padda kedua  bentuk sandiawara ini aadalah bentuk pergelarannya. Berdasarkan lakon yang dimmainkan maka dari kemunculan sandiwara pelajar maka timbul nama lain  yaitu darama sejarah yang berkembang pada masa pergerakan kebangsaan.
Menjelang pemilu pertama repoblik indonesia 1955 di Sumatra Barat berkembang pula sandiwara partai setelah itu munculk lagi nama lainnya sandiwara radio yang disiarkan melalui RRI. Salah satu tokoh yang berperan penting bagi kemunculan sandiwara radio yaitu Motinggo busye yang menjadi salah satu penulis drama terkemuka di Indonesia.
Perkembangan sandiwara juga diakibatkan beberapa faktor perkembangan teknologi komunikasi media pada saat itu.  Selanjutnya mulai dikenal dengan istilah sandiwara kampung. Peristiwa PRRRI ( pemerintah Revolusi Repoblik Indonesi) merupakan salah satu momentum dalam perjalanan sejarah masyarakat minangkabau di sumatara Barat yang kemudian mempengaruhi  kemunculan kondisi bagi meriiahnya kesenian dan hiburan rakyat di  Sumatra Barat.
sandiwara hibburan yang diinisasi milisasi OPR ( organisasi perlawanan rakyat) mulai bermunculan yang menjadi kesenian rakyat yang mulai digunakan sebagai propaganda . keterlibatan OPR dalam hiburan dan kesenian rakyat diperoleh pula dari berbagai nagari di Sumatra Barat. Sandiwara hiburan OPR hanya berlangsung kurang lebih tga tahun mengingat pasca peristiwa 30 September dan keadaan kesenian rakyat di sumatra Barat turut berubah setelah peristiwa tersebut.
Pra perantau Mingkabau terutama di Jakarta selain mnegmbangkan orgenisasi – orgenisasi persatuan berdasarkan daerah asal, juga mendirikan organsiasi kesenian salah satunya yaitu  BKAM ( badan kesenian alam Minangkabau ) ddengan alah satu kegiatan mementaskan sandiwara dengan lakon cinduo mato.
Gejala gejal yang ditimbulkan sebagi bagian dari involusi kebudayaan minangkabu terutama pada tahun 1960-an. Involusi kebudayaan ini ditandai dengan berdirinya kokar konservatori karawitan yag pada tahun 1968  kemudian dikenal dengan nama ASKI Padangpanjang kemunculan strategi pemulihan harga diri ini berpengaruh terhadap dunia kesenian . hoerijah adam salah seorang seniwati Minagkabau menciptakan draamatari malin kundang.
Pada akhir 1960-an berkemabng rombongan – rombongan sandiwara profesional di Sumatra Barat yang datanag dari berbagai daerah dan melaksanakan pertunjukan di paa- pasar malam. Salah sartunya yang paling tekenal yaitu grup sinar deli dariMedan. Perkembangan group – grop profesional merupakan akses dan kritis ekonomi yang terjadi pasca PRRI yang meluas hiingga ke Sumatra Barat.
Group – group sandiwara profesional juga mengaktualisasikan kembali gaya pemntasan bangsawan gabungan antara seni peran sengan nyanyian dan tarian terlihat pada lakon – lakon yang dimmainkan merupkan inspirasi dari novel yang populer pada sat itu.

Riwayat seni dramatik di Sumatra Barat menunjukkan bahwa pada sekitar akhir 1960-an hingga awal 1970-an sandiwara mulai tumbuh dan berkembang secara luas dalam masyarakat Minangkabau meski potensinya tampak telah ada sejak jauh-jauh hari. Budaya sandiwar tumbuh dalam interaksi antara beerbagai anasir seni dramatik dengan berbagai tujuan, pola dan gaya yang dipengaruhi oleh semangat zaman masing- masing antara lain opera melayu, tonil , sandiwara keliling dan lainnya.
Jejak – jejak sandiwara dalam masyarakat Minangkabau di Sumatra barat penulis menghadirkan 3 sampel sebagai kasus praktik sandiwara yang akan ditelusuri. Dari sampel ntersebut di asumsikan bahwa disetiap tempat di Sumatra Barat terdapat bukti pelaksanaan sandiwara.
Dimulai dari sandiwara di balai salasa dengan pembuktian dari hasil dokumentasi tentang kegiatan sandiwara yang didapat daria balai salasa ( palangai ). Salah satu nagari yang terletak di kecamatan ranah pasisir kab.pesisir selatan. Dari balai salasa tredapt tiga buah foto pertunjukan sandiwara dan seorang informan. Pertunjukan yang digelar beberapa hari setelah idul fitri tahun1975 membawakan cerita talipuak layua nan dandam yang bertema cinta tak sampai. Beberapa foto didapat dari berbagai bentuk adegan dalam pertunjukan ini.
Selanjutnya sandiwara di lubuak batingkok, sandiwara di nagari yang terletak di kabupaten lima puluh kota . dokumentasi  didapat dari pertunjukan lakon titian kehidupan yang dipentaskan pada tahun 1981. Lakoon yang bertemakan sebuah keluarga yang gagal merantau terdapat beberapa foto dari tiap adegan dalam pertunjukan.
Bentuk pertunjukan yang dihadiirkan dalam pementasan berupa tari tarian, peralatan band biasanya mmereka menyewa dari nagari lain sebelum akhirnya sanggup membeli sendiri dari hasil penjualan karcis sandiwara di kampung sendiri ditambah iuran pemuda lubuak batingkok.
Sampel sandiwara berikutnya yaitu sandiwara di tabek, kenagarian tabek salah satu nagari di kabupaten Tanah datar, di nagari ini  terdapat  foto – foto   tentang praktik sandiwara namun dokumentasi dari beberapa pertunjukan tidak ditemukan. Informasi sandiwara lainnya yang diperoleh oleh penulis yaitu sandiwara di talang babungo, sandiwara di pitalah bungo  tanjuang, sandiwara di gunuang Padangpanjang, dan sandiwara di SPG Padangpanjang.
Selesai dengan pembahsan sampel praktek sandiwara di beberapa nagari di Saumatra Barat, penulis merangkak pada pembahasan selanjutnya yaitu kerangka sosial budaya masyarakat, yang membicarakan lingkungan yang menjadi tempat tumbuhh dan berkembangnya sandiwara.  Dalam hal ini kajian terhadap dramaturgi sandiwara penulis bbuku mengawali dengan tin jauan sosil-histori yang ditunjukkan dengan faktor – faktor yang telah mengghasilkan dramaturgi sandiwara dengan meninjau kerangka sosial tempat sandiwara hidup sebagi katagori seni teater pada posisinya dalam peta kesenian masyarakat Minangkabau terakhir.
Eksistensi sandiwara dalam masyarakt Minangkabu dipahami melalui konsep teori para tokoh yang digunakan oleh penulis buku. Dalam masyarakat minnangkabau selalu ada usaha untuk memberikan makna terhadap kenyataan yang mengintari diri berdasarkan pradigmma adat yang dianggap masih  tetap berlaku,, penulis buku menghubungkan beberapa teori terakait dengan sandiwara sebagai salah satu gejala seni.
Matrik  budaya ternyata melingkupi  dan mempengaruhi maka bentuk  kesenian rakyat Minangkabau dapat berebentuk seni – seni bunyi, seni gerak, seni rupa, dan yang termuda seni lakuan dramatik. Pole perkembangan dari bentuk kesenian yang berbeda ini didasari oleh cara pandang lokal terhadap alam semacam kosmologi Minangkabau yang senantiasa dihubungkan demi adaik dan adago.
Sesuai pembagian daerah masyarakat Minangkabau terbagi dua yaitu bagian luhak dan bagian rantau atau darek dan pasisia yang dipandang sebagai dua arus yang mempengaruhi perkembangan kesenian di mainangkabau. Dari kedua daerah ini memiliki bentuk kesenian yang berbeda, pada daerah pasisia atau rantau lebih memperlihatkan pengaruh kebudayaan islam yang kuat sedangkan di luhak memperlihatkan keterikatan yang erat dengan dengan kehidupan adiak.  Dua pola kesina tersebut kemudian tercrmin dari tipe tempat pertunjukan tradisional Minangkabau. Dialektika antara dua sumber pengetahuan dan budaya masyarakat Minangkabau kemudian menjadi menjadi situs tempat sandiwara hadir.. selain inndang, luambek, randai, tupai jajang makan ingatan masyarakat pada tahun 1970 sangat kental tentang aktivitas seni yang dinamakan dengan sandiwara.
Meski sandiwara dari beberap hal dianggap memiliki sisi negatif namun dalam  hal lain masyarakat Minangkabau justru menganggap sandiwara cendrung memberikan penilaian yang posistif. Ingatan ini dimiliki oleh berbagai orang dari daerah asal yang berbeda – beda berdasarkan tingkat pendidikan dan status sosial. Pada informasi lainnya adanya indikasi bahwa sandiwara dipertunjukkan di atas pentas yang digambarkan mirip dengan bentuk  panggung prosenium yang terdapat penegasan wilayah antara tontonan dan penontonnya. Dan jelas bukan tipe tempat pergelaran seni tradisional di Minangkabau. Maka sandiwara memiliki posisi yang periferal di luar pusat – pusat perikehidupan masyarakat minangkabau tradisional.
Pembahasan sandiwara sebagai drama dan teater mengembalikan ingatan pada istilah sandiwara  mempresentasikan pandangan masyarakat di nagari Summatra Barat tentang seni dramatik. Kata sandiwara senidri dipahami dengan istilah sandiwara secara umum. Namun istilah sandiwara kerapkkali digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk menunjukkan beberapa situasi antara lain sandiwara politik, sandiwara elite, sandiwara hukum dan lainnya penggunaan kata sandiwara merupakan bentuk pengguanaan bahasa secra konotatif.
Maka dapat disimppulkan bahwa istilah sandiwara dalam masyarakat nnusantara selain dipahami sebagai salah satu genre seni, juga dianggap sebagi salah satu bentuk sikap atau perbuatan dalam kehidupan sehari – hari. Partisipan sandiwara memandang kesenian yang mmereka mainkan itu tidak ada bedanya dengan drama , teater, film bahkan sinetron. Pandangan tersebut datang karena pemahaman dari istilah tersebut pada dasarnya memiliki kesamaan substansi  yaitu seni peran dan hanya dipisahkan oleh perbedaan media seperti panggung, film,  dan televisi.
Sandiwara juga disetarakan dengan seni peran sebagai substansinya atas dasar pemikiran tersebut sebuah bentuk atau jenis seni pertunjukan dapat dikategorikan sebagai drama. Sebaliknya teater dapat diartikan sebagi seni pertunjukan drama atau seni pertunjukan lakon. Indikasi dari kata sandiwara yang mengarah pada seni peran tercermin dari beberapa pernyataan pendukung sandiwara.
Contohnya antara sandiwara dan randai menunukkan bahwa perkataan – perkatan tokoh randai dan sandiwara dapat dibedakan berdasarkan gaya dan bentuknya. Adapun istilah sandiwara minnang muncul dari pengertian lokal bahwa sandiwara adalah kesatuan tontonan yang selain memiliki unsuur dramatik juga terdiri atas unsur hiburan, seperti tari dan nyanyi.
Istilah sandiwara juga menwakili istilah sandiwara kampung. Perkataan kampung dalam istilah yang terakhir dipandang lebihh mewakili sifat dari kesatuan tontonan dramatik nyang tummbuhh di nagari – nagari Minangkabau itu  sendiri. Informasi lain tentang indikasi sifat khas dari  sandiwara yang hidup dalam masyarakat Miangkabau mereka menyebut sandiwara atau sandiwara di kampuang. Kata sandiwara digunakan dalam pengertian yang setara artunya dengan istilah drama dan teater, istilah sandiwara digunakan untuk pengertian sebuah kesatuan tontonan dengan unsur – unsur dramatik, tarian dan musikal yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Mianagkabau.
Struktur masyaarakat minangkabau di Sumatra Barat tidak mengenal strata sosial meski ada istilah rakyaik badarai yang dipertentangkan denagn urang babanso, terkadang datuak atau penghulu diibaratkan sebagai bangsawan lokal kedudukan di dalam masyarakat tidaklah pernah dianggap lebih tinggi seperti hubungan atasan dan bawahan. Tidak ada bentuk – bentuk kesenian yang dimiliki oleh sebagian kelompok masyarakat sebagai hak istimewa karena kedudukan atau strata sosial.
Perbedaan antara jenis –jenis seni dramatik dalam masyarakat Minangkabau bisa dilihat dari perspektif tingkatan senimenurut Janet wolf sandiwara dapat diletakkan sebagi yang baru, yang dapat dibedakan dengan randai dan tupai janjangyang diletakkan sebagai tradisional.
Gejala differensiasi seni dramatik dapat dipahami dengan menggunakan perspektif Elizabeth Graves tentang tumbuhnya golongan elite dalam masyarakat Minangkabau di Sumatra Barat pada masa kolonial sebagai akibat politik etis. Sandiwara dapat dikategorikan sebagai seni pertunjjukan rakyat, dalam artian ia dapat dikenali dan diterima secara luas oleh masyarakat Mianngkabau.
Sandiwara dipandang oleh sebagian orang terutama kaum intelektual dianggap tidak serius, ketidakseriusannya itu antara lain dilihat dari cara mengabungkan beberapa unsur seni kedalam pertunjukan yang seringkali dipandang tidak menunjukkan adanya relevansi  yang jelas. Justru sebaliknya kedudukan sebagai teater rakyat turut ditentukan oleh perpaduan unsur – unsur pembentuknya.
Sandiwara memeiliki beberapa konvensi yang disepakati oleh para pendukungnya yang terbentuk sebagi damppak dari perulangan selama beberapa tahun praktiknya di dalam masyarakat di Sumatra Barat .
Sandiwara umumnya digelar satu  kali dalam setahun biasanya tiga hari setelah lebaran idul fitri dengan lakon yang berbeda beda setiap malamnya. Biasanya latihan dilakukan setelah sholat tarawih dan sore sebelum buka puasa.
Pilihan waktu sandiwara tidak mempengaruhi aspek- aspek artistiknya ada indikasi kesengajaan untuk menyesuaikan lalkon yang dipentaskan dengan momentum pementasan. Pemilihan waktu pementasan dilakukakan saat liburan. Karena waktu liburan dapat dikaitkan dengan profesi sandiwara yang meliputi pelajar, pegawai negri, pedagang dan lainnya.
Sandiwara dilakukan pada suasana lebaran didukung juga dengan suasana liburan panjang yang bisa dimanfaatkan untuk berlatih. Pementasan sandiwara biasa dilakukan pada pukul delapan malam dan terakhir pada pukul 2 atau 3 dini hari. Pusat pementasan sandiwara terutama sekali disekolah dan pasar tradisional karena pemilihan tempat ini berdasarkan alasan teknis.
Pementasan sandiwara mulai menjajaki tahapan pengorganisasian seluruh hal yang menyangkut produksi pementasan sandiwara kemudian diambil alih oleh panitia sandiwara yang terbentuk. Ketika panitia sandiwara berbenruk proses implikasi sandiwara di sebuah nagari sejatinya telah dimulai melalui sosialisasi dari mulut ke mulut. Publikasi dan sosialisasi definitif biasanya tetap dilakukan setiap hari sebelum hari pementasan yang telah ditetapkan dengan suatu acara tertentu.
Pemasukan finansial sandiwara dibedakan dari tiga cara, penjualan karcis, pendapatan lelang dan dari donatur. Modal atau produksi sandiwara digelang sendiri oleh panitia sandiwara. Dana produksi sandiwara terutama sekali digunnakan untuk membeli atau menyewa perlengkapan pementasan serta mebiayai proses latihan.
Kerangka produksi memperlihatkan bahwa dratururgi sandiwara produk dari kerangka soail masyarakat nagari. Konstrubusi partisipanya sebagi agensi dan konstrubusi dramaturgi sandiwara membuat masing- masing dapat diposisikan sebagi draturgi. Tugas dramturgi sebgai berikut pilihan lakon, gaya pementasan, penetapan ruang dan waktu pementasan yang pada analisi terhadap pennontonnya.
Partisipasi sandiwara menyebut orang-orang yang terlibat dalam proses produksi sandiwara sebagai urang seni. Selain urang seni setiap nagari memiliki orang-orang yang ditanam untuk memegang perenan dalam panitia sandiwara. Mereka yang terlibat dalam panitian sandiwara adalah yang dikategorikan sebagai urang mudo. Sumbangan terbesar sandiwara adalah menyediakan kondisi bagi produksi sandiwara dengan menciptakan pola produksi yang paling tepat sesuai potensi masing- masing nagarai.
Sutradara dalam sandiwara cendrung bergeser artinya menjadi pengarang lakon meski tetap ada sutradara yang sesungguhnya. Kelompok besar yang berperan sebagi sutradara maupun penulis lakon drama sadiwara di setiap nagari antara lain kelompok intelektual tradisional dan intelektuan akademik yang mempengaruhi dramaturgi sandiwara. Meski tidak mutlak terdapat perbedaan kecendrungan antara perihal tempat pementasan, format carito, dan para pendukung pementasan.
istilah dramaturgi yang penulis gunnakan dalam buku ini menganduk dua pengertian yaitu peranti analisi dan sekaligus objek kajian. Penulis lebih memngarah pada pengertian yang kedua yaitu dramaturgi sandiwara. Dramaturgi dapat berarti sebuah cara dengan mana lakuan para aktor dikoordinasikan ke dalam bentuk pementasan secara keseluruhan bukan saja berkenaan dengan prosedur susatra namun berkaiatan dengan hal hal teknis.
Pementasan sandiwara pada dasarnya dihtenmpatkan ke dalam dua bagian utama babak dan selingan.indikasi keutamaan bagaian babak dalam sandiwara nyaitu semua selingan berfungsi untuk menjadi pengalih perhatian dari perubahan dekor untuk penampilan utama.
Pementasan sandiwara dibuka pada bagian yang dinamakan dengan drama merupakank bagaian utama keseluruhan tontonan. Dari penampilan drama itulah para penonton mendapatkan kesan-kesan khusus. Bagian utama dari drama ini yaitu perkenalan dengan tahap yang telah ditentukan. Setelah perkenalan drama sandiwara kemudian digulirkan dalam fragmen-fragmen yag dinamakan dengan babak. Fragmen drama terakomodasi dalam babak-babak menjadi wahana untuk menampilakan bakat memerankan seperti sebuah poameran dari bakat-bakat berperan terbaik anak nagari.
Dalam sanidwara terbentuk toko yang streotipe. Partisipasi sandiwara mengenal bagain yang dinamakan pantomime di dalam drama  ketika ada gerak tanpa dialog yaitu sebuah ilustri dari pendukung sandiwara menyebutkan bahwa dulu terdapat pula bagaian dimana pemain memeragakan dengan tubuhnya narasi yang dibacakan oleh seseorang dari luar pentas.
Beberapa aspek lainya yang terdapat dalam sandiwara ini yaitu  tari. Tari dalam sandiwara dimasukkan ke dalam bagian selingan tradisi sandiwara mengenal demikian banyak repertoar tari seperti tari kain, tari rantak dan lainnya.
Selanjutnya musik merupakan salah satu selingan dalam sandiwara istilah lainnya yaitu lagu dan nyanyi. Kehadiran kategori sandiwara dapat dilihat sebagai sarana mengekpresikan keterlibatnya partisipannya dengan kebaruan-kebaruan.
Berikutnya yaitu lawak sebagai salah satu unnsur yangf selalu ditunggu kehadirannya menunjukkan bahwa para partisipan sandiwara mengharapkan pula pementasan menjadi pelipur lara. Lawak mmerupakan bagaian dari drama ketika salah seorang tokoh diterapkan dengan karakter yang komikal.
Tokoh tokoh kaba yang komikal kemudian bertransformasikan ke dalam tokoh – tokoh dalm carito modreen dengan karakter yang lebih variatif. Lawak dalam sandiwara ditampilkan secara mandiri sebaga bagian dari selingan. Selain lawak yang menjadi selingan sandiwara ada yang dinamakan dengan lelang salah satu acara yang diletakkan pada bagian selingan pementasan sandiwara yang terkadang dinamakan pula lelang kue atau lelang singgang.lelang juga merupakan salah satu cara untuk menghimpun dana melalui kegiatan sandiwara yang dilakukan melalui beberapa mekanisme. Orang yang datang ke pementasan sandiwara terutama karena ingin menikmati suasana lelang masyarakat dinamakan dengan pecandu lelang. Acara lelang dala sandiawara bisa mendapatkan hasil yang lumayan jika sesi lelang telah selesai diserahkan kembali kepada panitia sandiwara.

Minggu, 04 Mei 2014

SALAH SATU CATATAN PEMENTASAN PERAYAAN HARI TARI SEDUNIA

MANUSIA SAMPAH URBAN MELALUI TUBUH EMPIRIS
Tidak ada yang bisa dilakukan, hidup sendiri, sepi dan jauh dari kebahagiaan, dengan memperjuangkan satu hal yang berharga yang masih tersisa yaitu kehidupan. Segelumit persoalan inilah yang dirasakan oleh manusia sampah, manusia yang tersingkir akibat peradaban manusia lainnya yang berpacu mengejar  kemewahan dan pangkat yang tinggi. Bentuk kepedihan dari manusia sampah ini diaplikasikan ke atas panggung oleh Riko Melta Pratama melalui  tubuh yang komunikatif, Riko yang kerap dipanggil Pekot ini menyusung tema ‘Manusia Sampah’ dengan menvisualisasikan melalui  gerak tubuh.
Pertunjukan ‘Manusia Sampah’ dipentaskan hampir 30 menit ini dimulai dari pukul 16.00 Wib hingga 16.30 Wib di auditprium Boestanul Arifin pada hari senin tanggal 28 aprli 2014 , pementasan dalam rangka perayaan hari tari sedunia ini sudah berlangsung pada siang harinya, sebelumnya beberapa pertunjukan telah dipentaskan oleh perwakilan masing – masing jurusan dari fakultas seni pertunjukan hingga jurusan teater mendapatkan kesempatan untuk mementaskan 2 bentuk pertunjukan, salah satu pertunjukan tersebut ialah ‘Manusia Sampah’ karya Riko Melta Prata dengan mengandalkan tampilan solonya. Riko yang biasa dipanggil pekot ini mengkonsep pertunjukan kali ini jauh lebih baik dari pertunjukan ‘Manusia sampah’  yang pernah dipentaskan sebelumnya, hal ini nampak dari kejelas secara bentuk makna dari cerita yang disampaikan dan dari permainan yang lebih komunikatif dengan penonton.
Pertunjukan yang berlangsung setengah jam ini berjalan dengan lancar. Tidak ada kepastian yang jelas dalam bentuk aliran yang digunakan oleh pekot, yang pasti pertunjukan ini merupakan pertunjukan teater tubuh dengan mengandalkan tubuh sebagai media menyampaikan pesan, pola gerak yang tersusun mengikuti gambaran alur. Sesekali terdengar teriakan yang menjerit mempertegas suasana kepedihan dan kemarahan yang dirasakan.
Suasana yang dihadirkan tergambar dari pola gestur yang diciptakan melalui struktur tubuh yang seolah-olah mewakili keperihan, kepedihan dan amarah. Bentuk gestur tubuh sesekali me­mili­ki konsekuensi logis dari ketiadaan metodologis dan tehnik yang membuka tubuh kepada kemungkinan dirinya untuk berinteraksi dengan properti hingga ruang panggung, dan makin terasa sampai begitu sadar dengan pola panggung yang sudah terkonsep. Bentuk gerak yang dihadirkan menciptakan kemung­kinan-kemungkinan dari wa­tak teater tubuh yang situa­sional dapat  memasuki dan mengolah ruang pertun­jukan.
Pekot mengaplikasikan cerita mlalui gestur tubuh yang berkarakter, namun dalam pergerakannya sulit untuk menemui tipekal gerak yang jelas dari pergerakan pekot. Tubuh sebagai sebuah mendia untuk menyampaikan merupakan komponen utama bagi seorang aktor teater yang dilengkapai dan didukung dengan komponen  lainnya sehingga dapat terciptanya suatu penokohan yang kompleks dengan irama vokal yang tecipta dari batin atau jiwa seorang aktor. Maka perlu untuk memahami makna dari tubuh aktor itu sendiri.
Menyusung kesuksesan pertunjukan sebelumnya, pada pertunjukan kali ini pekot berusaha untuk melengkapi kekurangan dari pertunjukan sebelumnya tentu tidak lepas dari pemehamannya secara teoritis, karna pada dasarnya yang membendakan penyajian pertunjukan teater oleh orang akademik dengan mempelajari ilmu teater secara otodidiak terletak pada landasan teori.  Seorang yang berada dilingkungan akademik lebih memehami hal dasar dengan landasan sebuah teori sebelum merangkak pada hal yang lebih luas. Hal tersebut dilakukan agar terciptanya sebuah karya yang kuat dan penuh pertanggungjawaban.
Kurangnya sikap teoritis akan menyebabkan kualitas dan metode pendekatan teater kurang variatif sehingga kerap tidak memiliki dasar yang kuat atas pemikiran yang jelas, sehingga karya yang diciptakan susah untuk dipertanggungjawabkan. Sebuah karya yang tercipta akibat terbatasnya referensi dan kurang pengamatan atas proses yang dijalani, ditambah dengan tingkat disiplin serta totalitas yang masih perlu dipertanyakan sehingga teater pun seperti tidak membawa manfaat apa pun.
Kondisi seperti inilah yang membuat banyak pelaku teater yang tidak menghargai sebuah karya teater. Sesungguhnya kesalahan bukan pada teater tetapi bagaimana seseorang menjalani proses berteaternya. Maka untuk menetralisir hal seperti ini dibutuhkan dukungan dan cara menghargai sesama.
Tidak ingin terlepas dari hal tersebut, Pekot mencoba untuk menvisualkan pertunjukan Manusia Sampah dengan beberapa property yang digunakan seperti sekumpulan sampah yang berserakan diatas panggung dan Pekot menambahkan proprty lainnya berupa tanah liat, tepung dan cat sebagai bantuan untuk ekplorasi tubuh. Pekot juga menghadirkan video sampah yang bertumpuk dengan bantuan siluet. Secara empiris Pekot berusaha menghadirkan kenyataan realita hidup yang tidak bisa terlepas dari sampah. Manusia melupakan sesuatu yang dapat menimbulkan dampak besar bisa dampak positif bahkan sebaliknya menimbulkan dampak yang negatif. Sebagaimana yang dialami oleh seseorang yang terbuang dan tidak dipedulikan samasekali bahkan potensi yang sebenarnya ada menjadi sia-sia. hal tersebut diungkapkan pekot melalui gestur serta mimik wajah serta sesekali pekot mengeluarkan jeritan yang mewakili kepedihanan dan amarah.
Untuk mencapai tubuh dengan bantuan ekplorasi tanah liat, sampah, tepung dan lainnya, sebelumnya pekot  telah mempersiapkan fisik dengan latihan dasar, latihan teknik serata latihan pembawaan. Setelah melalui tahap ini pekot mencoba untuk memasuki pembebasan tubuh yang berusaha memerdekaan tubuhnya. usaha itu dicapai melalui kesadaran gerak tubuh, kemudian pada tubuh yang tidak melawan kepada obyek yang berasal dalam maupun luar ketubuhan, dan terakhir melalui proses pemantapan. Hal inilah yang diungkapkan oleh pekot saat ditanya perihal proses pencapaian pertunjukan ini.
Berangkat dari pemahaman di atas, maka muncul pertanyaan; apakah proses yang dilakukan pecot telah mencapai target yang diinginkan? Beberapa saat sempat membuat penonton tertegun karena tertarik dengan beberapa hal yang diciptakan, misalnya ketika adegan pecot mulai melumuri badannya dengan tanah liat hingga seluruh tubuhnya ditutupi oleh tanah liat, dengan bantuan video yang ditampilkan membuat persoalan yang diangkat mudah dipahami oleh penonton namun pekot harus bekerja keras lagi agar tidak terbenam atas visual siluet yang ditampilkan. Sering kali sebuah permainan aktor tenggelam diatas panggung akibat munculnya beberpa komponen yang sifatnya mencuri fokus  penonton. hal tersebut bisa diakali tergantung pada garapan dan permainan aktor itu sendiri. Hal ini permainan pekot sendiri bisa membantu mengimbangi video dari siluet yang ditampilkan dengan bantuan property yang dipilih pekot untuk menghadirkan kejutan – kejutan dibeberapa adegan.
Gerak tubuh yang ditampilkan pekot dapat menyatu dengan property yang ada. Lain hal gerak tubuh yang ciptakan oleh pecot belum ada kejelasan tipekal gerak dengan kata lain pecot tidak memberi sentuhan gerak – gerak yang menantang seperti gerak silat dari tradisi sendiri ataupun gerak – gerak akrobatik. Acuan ataupun referensi merupakan bagian pokok dalam mencipta sebuah karya tidak hanya secara teoritis pengalaman empiris wajib ada pada setiap lakuan cipta. Hal ini yang tergambar oleh lakuan ‘Manusia Sampah’  diwujudkan melalui gerak tubuh yang berangkat dari pengalaman empiris.
Secara visual, dengan menyusung tema ‘ Manusia Sampah ‘ Pekot lebih memperlihatkan keberadaan sekumpulan sampah yang ada diman – mana. keprihatinan akibat ketidakpedulian keberadaan sampah menjadi pengaruh yang besar terhadap dunia. Berangkat dari pemahaman tersebut, dibalik sekumpulan sampah ada makna lain yang dihadirkan dari pertunjukan ini yaitu keberadaan manusia yang tersingkir karna tidak berguna justru sebaliknya manusia lain tidak menyadari bahwa adanya potensi yang terpendam. Hal inilah yang ingin disampaaikan oleh pecot melalui pemahaman bahasa non verbal atau bahasa tubuh.
Pertunjukan ‘Manusia Sampah’ dari awal hingga akhir pertunjukan tidak terlepas dari sampah yang bertebaran, dengan tambahan video siluet yang ditampilkan dan property lainnya menambah pemaknaaan dalam pertunjukan dapat tersampaikan, namun beberapa hal yang harus jeli untuk diperhatikan yaitu aktor merupakan media utama dalam pertunjukan teater maka jangan biarkan permaian aktor terbenam dari komponen pertunjukan lainnya yang dihadirkan.